Aku macet
Balik ke arus lama, hampir
Terpengaruh suram milik sendiri
Perasaan suram
Ketidakpuasan
Kehausan
Keserakahan
Hampir lupa, dimana tempat yg sudah ku titiki untuk kembali
Mungkin aku, mulai besar kepala
Jadi mulai berani untuk protes
Terus, menerus
Memberi makan egonya sendiri
Dengan meromantisasi, terlalu jauh
Sekalinya sadar ada yang mendengar,
Jadi mengeluh terus
Aku perlu belajar
Mulai kehilangan semangat harapan setinggi langitnya
"Apa memang ketinggian ya"
Aku yakin, Tuhan maha pemberi segalanya
Kun faya kun, infonya
Tapi aku masih, "sepertinya memang bukan jalanku hidup seperti itu"
Aku harus, kembali ke tanah
Mendarat
Dengan penuh kesadaran
Kemudian disaat itu,
Mata ku kembali basah
Merasa kehilangan atas apa yang aku tidak pernah miliki
Memangnya apa yg kamu miliki..?
Mungkin porsi ku sekarang, hanya segini
Atau sebenarnya, rasa syukurku saja yang masih sempit
Bisa jadi,
Aku masih jadi manusia yang tak tahu diri
Aku perlu belajar
Mata bisa kembali kering
Tapi suara batin itu bisa jadi kembali lagi
Kemudian membawa kehampaan dan keheningan
Juga kelelahan yang selalu mendera tubuh dan pikiran
Aku, lelah kenapa?
Jelas aku, tau jawabannya
Jawaban yg bisa jadi bukan jawaban
Aku, masih mencari
Erupsi diri, disusul dengan erupsi alam
Seolah memberikan penerangan nya sedikit ke jalan yg kututupi sendiri dengan abu-abu yang seharusnya tidak lagi kusimpan
Cepat atau lambat, semua akan hancur
Tanpa prediksi, tanpa aba-aba
Pohon tinggi akan jatuh, bangunan kokoh akan runtuh. Hancur semuanya
Jadi kenapa, seolah aku ingin menghancurkan semuanya lebih dini
Seolah ingin, semua berhenti detik ini juga
Seolah ingin, Sudah. Cukup
Padahal, semua hal akan cukup pada waktunya
Aku, hanya perlu belajar
Bukan sedih, bukan menderita, bukan kesusahan yang tak berujung
Aku, hanya masih bodoh
Berjalan, dengan tutup mata
Aku, benar-benar perlu belajar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar