Dia lahir dari pasangan muda
Pasangan yang punya keinginan sederhana
Pasangan yang kemudian diuji dengan dunia yang begitu melelahkan
Layaknya roda berjalan tiada henti
Mereka mungkin sering hampir menyerah
Namun, mereka selalu kembali dengan pecahan-pecahan yang tersisa
Pecahan yang entah apa nama bentuknya.
Dia tumbuh melihat dan menyadari apapun yang ada di sekelilingnya
Dia tumbuh dengan perintah harus prihatin dengan semua hal
Dari hal kecil yang mungkin sangat menyedihkan, jadi terasa sebuah anugerah yang luar biasa
Harus bersyukur.
Terpatri permanen dalam pola pikirnya,
Sampai pernah dia takut punya harapan,
Dia pernah takut punya keinginan,
Karena hal seperti itu akan terasa sangat serakah dan akan berakhir merasa bersalah entah pada siapa
Mungkin, pada dirinya sendiri di hari kemarin.
Sesekali ingin berani jatuh cinta selayaknya remaja yang penuh gairah.
Namun Lagi-lagi selalu berakhir takut, karena merasa belum layak dan mampu.
Serakah. Egois. Tidak tahu diri.
Begitu suara hatinya mengingatkan.
Dia tidak takut sendiri
Seringkali ia menantang kesendirian
Entah mau membuktikan kesiapa
Padahal sepertinya, ia hanya takut merasa bergantung dan akan mati konyol saat ditinggal tiba-tiba.
Penakut dan pengecut.
Tantangan seperti sebuah hadiah yang harus ia ambil.
Jika kebahagiaan menghampiri nya, pikiran itu akan selalu mengelilinginya
"Hal apa yang akan hilang selanjutnya?"
Terbiasa harus berlari agar tak tertinggal,
Jadi malah suka berlari untuk meninggalkan.
Hanya karena ia takut ditinggal lebih dulu.
Dia hidup untuk sepasang kekasih yang menjadi perantara hidupnya di dunia.
Lepas dari itu, dia harus berpikir keras untuk apa selanjutnya.
Untuk diri sendiri? Sepertinya terlalu muluk-muluk.
Dia selalu di penuhi dengan cinta Tuhan
Walaupun dia seringkali tidak tahu diri
Ini bagian kecil dari keasliannya.
Apa yg ia rasakan, resahkan dan takutkan.
Hidup terus berjalan
Ia, kadang berjalan pelan kadang lari tergesa gesa.
Kadang ia diam, menoleh kebelakang dan hampir tertinggal.
Dia masih melanjutkan pikirannya
Pikiran yang mungkin masih mentah atau pikiran yang terlalu dangkal.
Mungkin dia, hanya kurang pandai bersyukur.
Semoga Tuhan selalu mengampuninya

