Hanya perlu beri lebih sedikit waktu.
Untuk memberi ruang, bagaimana rasa itu menemukan wajah aslinya.
Apakah itu muncul hanya karena lonjakan dopamin,
Atau rasa keingintahuan yang tinggi,
Atau bahkan karena rasa gairah yg muncul sesaat.
Cinta bisa hadir, karena mengenal.
Mengenal bagaimana humor berada di derajat yang sama,
Mengenal bagaimana kebutuhan ego yang perlu diisi satu sama lain,
Mengenal bagaimana caranya ia marah,
Mengenal bagaimana caranya ia bahagia, sedih, bingung atau disaat hanya ingin diam saja.
Hanya perlu waktu
Dan ke-aslian.
Ini cinta manusia.
Mereka selalu butuh alasan, untuk selalu konsisten dan tidak akan berubah.
Mereka selalu butuh alasan, untuk selalu memegang rasa yg menurut mereka itu adalah cinta.
Namun, ini hanya pandangan dari salah satu dari ribuan kacamata.
Bisa jadi cinta punya arti yang berbeda di halaman buku lain.
Mungkin akan jauh lebih ringan atau lebih berat pengertiannya.
Mudah untuk menyadarinya,
Sebelum, act speaks louder.
Mata lebih dulu nyaring suaranya.
Tatapan bisa jadi lebih banyak punya arti dibanding 1 buku kamus bahasa asing.
Tidak perlu belajar, merasakan hangat mata seseorang yg jatuh cinta bisa dirasakan tidak hanya oleh dia yang dicintanya.
Radiasinya kuat, semoga semua berjalan lancar ya!
Waktu memang selalu jadi penyaring terbaik untuk melihat mana yang sekadar emosi sesaat dan mana yang benar-benar utuh. Suka sekali dengan pemikiran bahwa cinta butuh keaslian dan alasan untuk konsisten.
BalasHapusSebagai pembaca (yang kebetulan sangat bersyukur bisa melihat tatapan hangat penulisnya secara langsung), cuma mau bilang terima kasih sudah memberi waktu dan ruang. Keaslian itu memang butuh tempat yang aman untuk tumbuh, dan untungnya sekarang ruang itu terasa sangat sejuk dan menenangkan. Mari temukan ribuan alasan logis lainnya sambil terus berjalan berdampingan ya.
Bagaimanapun jalan cerita menemukan titik akhirnya. Semoga Cinta Tuhan selalu menyertai diri kita
Hapus