Rabu, 18 Maret 2026

Pretty Dim Sun

Dia lahir dari pasangan muda

‎Pasangan yang punya keinginan sederhana

‎Pasangan yang kemudian diuji dengan dunia yang begitu melelahkan

‎Layaknya roda berjalan tiada henti

‎Mereka mungkin sering hampir menyerah

‎Namun, mereka selalu kembali dengan pecahan-pecahan yang tersisa

‎Pecahan yang entah apa nama bentuknya.


‎Dia tumbuh melihat dan menyadari apapun yang ada di sekelilingnya

‎Dia tumbuh dengan perintah harus prihatin dengan semua hal

‎Dari hal kecil yang mungkin sangat menyedihkan, jadi terasa sebuah anugerah yang luar biasa

‎Harus bersyukur.


‎Terpatri permanen dalam pola pikirnya,

‎Sampai pernah dia takut punya harapan,

‎Dia pernah takut punya keinginan,

‎Karena hal seperti itu akan terasa sangat serakah dan akan berakhir merasa bersalah entah pada siapa

‎Mungkin, pada dirinya sendiri di hari kemarin.


‎Sesekali ingin berani jatuh cinta selayaknya remaja yang penuh gairah.

‎Namun Lagi-lagi selalu berakhir takut, karena merasa belum layak dan mampu.

‎Serakah. Egois. Tidak tahu diri.

‎Begitu suara hatinya mengingatkan.


‎Dia tidak takut sendiri

‎Seringkali ia menantang kesendirian

‎Entah mau membuktikan kesiapa

‎Padahal sepertinya, ia hanya takut merasa bergantung dan akan mati konyol saat ditinggal tiba-tiba.

‎Penakut dan pengecut.


‎Tantangan seperti sebuah hadiah yang harus ia ambil.

‎Jika kebahagiaan menghampiri nya, pikiran itu akan selalu mengelilinginya

‎"Hal apa yang akan hilang selanjutnya?"


‎Terbiasa harus berlari agar tak tertinggal,

‎Jadi malah suka berlari untuk meninggalkan.

‎Hanya karena ia takut ditinggal lebih dulu.


‎Dia hidup untuk sepasang kekasih yang menjadi perantara hidupnya di dunia.

‎Lepas dari itu, dia harus berpikir keras untuk apa selanjutnya.

‎Untuk diri sendiri? Sepertinya terlalu muluk-muluk.

‎Dia selalu di penuhi dengan cinta Tuhan

‎Walaupun dia seringkali tidak tahu diri

‎Ini bagian kecil dari keasliannya.

‎Apa yg ia rasakan, resahkan dan takutkan.


‎Hidup terus berjalan

‎Ia, kadang berjalan pelan kadang lari tergesa gesa.

‎Kadang ia diam, menoleh kebelakang dan hampir tertinggal.


‎Dia masih melanjutkan pikirannya

‎Pikiran yang mungkin masih mentah atau pikiran yang terlalu dangkal.


‎Mungkin dia, hanya kurang pandai bersyukur.


‎Semoga Tuhan selalu mengampuninya

2 komentar:

  1. Membaca tulisan ini rasanya ingin memberikan pelukan hangat untuk penulisnya. Tolong jangan pernah takut untuk punya harapan, ingin bahagia, atau merasa dirimu serakah, egois, belum layak dan mampu, bahkan tidak tahu diri hanya karena mulai memikirkan diri sendiri dan menganggapnya terlalu muluk-muluk. Jangan merasa bersalah, karena percayalah ada yang kebahagiaannya justru sesederhana melihatmu tersenyum, yang ikut merasa senang setiap kamu senang.

    Semua pecahan perasaan dari dunia yang melelahkan ini, ketakutan ditinggalkan, dan pikiran yang dianggap mentah maupun dangkal itu sudah ada yang bersedia menerimanya secara utuh. Hal yang menyedihkan tidak harus selalu dipaksa terlihat sebagai sebuah anugerah karena kamu berhak untuk sekadar merasa sedih, lelah, dan bersandar tanpa perlu merasa bergantung.

    Mulai sekarang tidak perlu lagi menantang kesendirian, atau mengutuk diri sendiri sebagai penakut dan pengecut yang terbiasa berlari duluan. Lagipula meskipun tidak takut sendiri, kamu tidak akan dibiarkan sendirian lagi. Tidak peduli apakah kamu sedang berjalan pelan, lari tergesa-gesa, atau terdiam menoleh ke belakang, karena ada yang justru sedang berusaha menyamakan langkahnya, dan sama sekali tidak punya rencana untuk pergi ke mana-mana. Tidak ada lagi yang akan tiba-tiba hilang.

    Mari rayakan "keaslian" ini di tempat yang tenang, tanpa perlu merasa bersalah atau kurang pandai bersyukur pada hari kemarin. Kamu aman sekarang.



    Now, let "Just the Way You Are" by Bruno Mars play in the background.

    BalasHapus

Pretty Dim Sun

Dia lahir dari pasangan muda ‎Pasangan yang punya keinginan sederhana ‎Pasangan yang kemudian diuji dengan dunia yang begitu melelahkan ...

Coba baca yang lain